7 Tips Mendidik Anak di Era Digital

7 Tips Mendidik Anak di Era Digital

Sahabat Baju Sekolah, mendidik anak di zaman millenial ini erat kaitannya dengan Era digital. Era dimana teknologi informasi sudah begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Contohnya HP yang Kita bawa kemana-mana sekaligus jaringan inernetnya. Perkembangan dunia digital tak hanya memberi kemudahan, efek negatif yang menjadi kekhawatiran bersama adalah gap antara orang tua dan anak yang semakin kita rasakan.

Terkadang menjadi sebuah kecemasan bersama ketika Kita melihat fenomena anak yang lebih rela tidak makan daripada Hpnya disita orang tuanya, tidak jarang anak usia balita akan menangis hebat ketika Hpnya diambil oleh orang tuanya, begitu juga anak-anak menjadi acuh terhadap lingkungannya, tidak memberi sambutan atau hanya sekedar membalas salam ketika Ayah atau Ibunya pulang dari suatu tempat, hilangnya rasa hormat ketika orang tua memanggil, belum lagi masalah pornografi yang sangat mudah didapatkan digenggaman. Sehingga Kita hanya bisa melihat anak pasif, tanpa prestasi.

Jadi, bagaimana cara mendidik anak di era digital??

  1. Pegang tanggungjawab penuh sebagai Orang Tua

Mendidik anak seringkali dianggap tugas utama seorang Ibu. Padahal sosok Ayah tidak kalah penting. Ayah dan Ibu harus memiliki pandangan yang sama, yaitu sama-sama bertanggungjawab atas, jiwa, pikiran, keimanan, kesejahteraan anak secara utuh. Di zaman sekarang ini banyak sekali orang tua yang melepaskan asuhan anak-anaknya kepada orang ketiga, entah mertua atau pembantu. Apabila keadaan ini terpaksa harus dilakukan, maka perlu dicek bagaimana sejarah dari orang yang Anda percayakan untuk menjaga buah hati. Disisi lain orang tua harus mempunyai tujuan pengasuhan sejak dilahirkan. Prioritas apa saja yang diberikan kepada anak dan bagaimana caranya.

  1. Bangun kedekatan yang hangat kepada Anak

Kedekatan ini bukan berati melekat antara kulit ke kulit, melainkan dari jiwa ke jiwa. Bukan pula selalu disampingnya 24 jam non stop. Namun pendekatan disini adalah pendekatan secara emosional. Orang tua harus belajar berkomunikasi baik dengan anak. Belajar cara membaca bahasa tubuh, serta mau mendengar perasaan anak. Buat anak nyaman dan merasa aman bersama kita. Sehingga anak pun tak segan untuk menghormati Kita, sebagai orang tua.

  1. Menjadi orang tua yang Playful

Menjadi partner yang baik untuk buah hati, berarti Kita harus aktif untuk mencari tahu hobi, minat, topik dan aktivitas yang anak sukai. Aktif browsing mengenai aktivitas terkait. Dampingi anak untuk melakukan aktivitas tersebut dan berusaha menjadi teman yang asyik dan saling menghargai.

  1. Tanamkan ajaran agama sejak dini dan dalam keseharian

Kenalkan kepada anak bagaimana bertuhan dengan benar, baik ibadah yang berupa ritual (seperti sholat, puasa, membaca AlQur’an) dan iman taqwa. Jika seorang anak telah dibekali ilmu agama sedemikian rupa, ia sudah tidak lagi berbuat baik karena manusia tetapi karena perintah tuhannya. Begitu juga adab dan norma akan mengikuti dalam tahapan belajarnya menjadi insan yang bertaqwa.

  1. Batasi penggunaan Gadget sedari kecil

Jangan biasakan mengalihkan agar anak tenang misalnya dengan menyodorkan video atau permainan dari gadget KIta. Ini akan menjadi kebiasaan buruk, karena Ia akan kecanduan dari hari ke hari. Jika gadget itu diperlukan untuk menunjang pertumbuhannya dengan video edukasi misalnya, ada pendamping disampingnya sehingga Kita tidak kehilangan moment kebersamaan bersama buah hati. Juga bisa membatasi waktu anak kapan ia harus berhenti menonton.

  1. Dorong anak untuk melakukan aktifitas motorik

Semakin banyak bergerak, maka anak akan menjadi lebih sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat. Anak-anak boleh bermain gadget, tapi kita tetap harus dorong mereka untuk melakukan aktifitas motorik yang lebih prioritas, dengan memfasilitasinya seperti bermain boneka, masak-masakan, libatkan membantu orang tua dalam mengerjakan pekerjaan rumah, bermain bola, jalan pagi bersama, dan aktivitas lain yang melibatkan gerakan tubuh yang aktif. Dengan begitu anak akan lebih aktif, berkembang saraf motoriknya dan mengenal lingkungan disekitarnya.

  1. Memonitoring lingkungan baik dunia Maya maupun disekitarnya

Perbanyaklah interaksi dengan anak dari kecil supaya mereka terbiasa bercerita kepada anda ketika ada hal yang baru. Orang tua harus lebih dulu hadir dalam kehidupannya. Dengan begitu orang tua akan lebih mudah memberikan saran dan masukan kepada anak mana yang boleh dan yang tidak. Akses internet, membuat anak akan lebih mudah mengakses banyak situs, termasuk pornografi. Berikan contoh dampak buruk dari konten ini. Jika Kita melihat anak Anda membuka situs ini, buat pendekatan dan menegurnya dengan cara yang baik.

Jadi, mendidik anak di era digital ini tidak akan bisa terlepas dari peran kedua orang tua. Orang tua harus berperan aktif agar anak tidak salah dalam bergaul. Dimana kita tahu tantangan zaman saat ini dengan kemudahan akses internet informasi apa saja bisa didapatkan secara cepat, membuat kita juga harus bisa mengimbangi perekembangannya. Jangan biarkan mereka terpengaruh oleh pergaulan dari media-media yang tidak bertanggungjawab.

 

Semoga Bermanfaat 🙂

5 Tips Memotivasi Anak Gemar Belajar

5 Tips Memotivasi Anak Gemar Belajar

Sahabat Baju Sekolahan, liburan akhir tahun menjadikan PR orang tua supaya memotivasi anak gemar belajar dimanapun dan kapanpun anak-anak berada. Biasanya anak-anak telah menghabiskan liburan dengan senang hati, karena agenda liburan keluarga yang telah direncanakan. Hal ini menjadikan sebagian anak tidak ingin mengakhiri liburan mereka, dan sungkan kembali ke dunia sekolah. Kembali belajar menjadi hal yang tidak menyenangkan, ada apakah gerangan?

Ada banyak faktor yang menyebabkan anak menjadi kurang berminat untuk belajar, misalnya pelajaran yang membosankan, suasana belajar yang tidak nyaman, kurangnya dukungan, dan lain-lain.

Sebenarnya banyak juga sebagian anak yang tidak hanya setelah menghabiskan liburan menjadi kurang semangat untuk pergi ke sekolah. Tetapi dalam keseharian merekapun terkadang juga begitu, kurang gemar belajar. Mungkinkah salah dalam mendidik anak? Karena sebenarnya anak-anak terlahir menjadi seorang pembelajar ulung tanpa disuruh.

 

Ketika anak-anak usia batita, keingintahuannya tinggi, gemar sekali belajar hingga setiap hal yang ia temui akan menjadi sasaran empuk untuk hanya sekedar mengamati, memegang, atau meniru orang-orang disekitarnya. Namun tanpa kita sadari kita sering menahan mereka untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Misalnya saja anak bermain air di ember cucian piring, apa ekspresi pertama kali Anda ketika melihat anak bermain air di bak piring? Terkadang spontan lisan kita mengatakan, “Jangan main air”. Terkadang langsung menggendongnya menjauh dari objek belajarnya. Dan akan terjadi hal yang demikian(melarang) ketika anak melakukan hal yang mungkin bertolak belakang dengan keinginan orang tua yang ingin agar anaknya tenang, diam, dan tidak  banyak ulah.

Jika kasusnya seperti ini yang pertama kali harus diperbaiki adalah dari sisi orangtua terlebih dahulu, dengan mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan anak dan sifat dari pikiran anak, serta pentingnya menomor satukan cinta dalam mendidik anak.

Berikutnya adalah tips berkomunikasi bagaimana agar anak kita menjadi rajin dan mudah sekali belajar dimanapun dan kapan pun baik di luar maupun di lingkup sekolah.

  1. Tanyakan hal yang menyenangkan sepulang sekolah atau ketika selesai belajar.

Misalnya “Hai sayang, apa yang menyenangkan hari ini di sekolah?” Otomatis otak anak akan mencari hal-hal yang menyenangkan di sekolah dan ini secara tidak langsung akan memberitahu sang anak bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Jika anak berkeluh dengan kejadian yang kurang menyenangkan saat di sekolah misalnya, maka dengarkan dan berikan solusi terbaik untuk meredakan ketidaknyamananya.

  1. Berikan pujian dan semangat untuk terus belajar.

Saat anak tidur (Hypnosleep), katakan “Makin hari, belajar makin menyenangkan”, “Sama halnya dengan bermain, belajar juga sangat menyenangkan”, “Mudah sekali bagimu untuk belajar (berhitung, menghafal dan lain-lain)”. Pujian yang tulus dan memompa semangatnya jauh lebih penting dari pada mengajarkan teknik-teknik berhitung dan menghafal yang cepat.

  1. Jelaskan manfaat dari pelajaran yang sedang dipelajari.

Misalnya, belajar Matematika bab pengurangan penambahan dan bahasa inggris. Kita bisa mngatakan “Adek kalau ngga mau dicurangi Abang yang jualan mainan harus bisa pengurangan penambahan. Jadi bisa tahu habis berapa dan berapa kembaliannya. Terus adek juga harus bisa bahasa Inggris, kalau nanti ikut Ayah ke Singapore karena semuanya harus pake bahasa inggris. Okey?”

  1. Jika anak kita masih kecil bacakan kisah-kisah yang inspiratif dengan memangkunya.

Misalnya tentang para pahlawan yang cerdas dan pintar, para penemu, dan orang-orang yang menginspari dengan ilmu mereka. Posisikan memangku dengan posisi yang nyaman, serta memudahkan kita orangtua untuk memberikan ciuman kasih sayang atau pelukan sayang. Tujuannya agar anak mengkaitkan membaca buku dengan rasa cinta dari orangtua dan buku adalah hal yang sangat menyenangkan.

  1. Sampaikan harapan ke anak dengan cara yang lebih intim.

Misalnya, menggunakan surat rahasia dari orangtua kepada anak. Kita bisa berkata “Nak, Ibu telah meletakan surat rahasia buat kamu. Cuma kamu dan ibu yang tahu isinya. Ibu letakan dibawah bantal tidurmu, bacalah setelah makan ya.” Isinya bisa berupa kata-kata yang menyemangati anak dalam kegiatan belajar dan sekolahnya.

 

Kesimpulan cara memotivasi anak untuk belajar adalah dengan membantu mereka menikmati proses belajar dengan kasih sayang.

 

Semoga bermanfaat.