6 Tips Mencegah Anak dari Bahaya LGBT

Sahabat Baju Sekolahan, kasus mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang kian merebak akhir-akhir ini tidak dapat dipungkiri menimbulkan kekhawatiran bagi semua orang, termasuk kita sebagai orang tua. Tentu, tidak ada orang tua yang Sholeh-Sholehah yang menginginkan anaknya terjerumus dalam perilaku menyimpang ini. Meski bahaya perilaku ini sudah banyak dinyatakan dalam Al-Quran dan hadist, tapi perilaku ini masih ada dan berkembang di masyarakat kini.

Untuk menjaga kualitas diri anak agar terhindar dari perilaku LGBT, berikut kami telah merangkun 6 Tips Mencegah Anak dari Bahaya LGBT yang Sahabat Baju Sekolahan bisa terpkan agar anak dapat terhindar dari bahaya penyakit ini.

  1. Menegaskan Identitas Seksual Anak dan Membiasakannya Berperilaku sesuai Indentitas

 

Orang tua memegang peran utama sebagai pendidik anak pertama dalam mengajarkan pendidikan seksual yang benar kepada anak. Orang tua harus tegas dalam menjelaskan mengarahkan identitas seksual anak.

Pada kisaran umur 4-5 tahun, saat mulai berkembangnya pola fikir anak, Orang tua harus tegaskan bahwa jika anak laki-laki harus berperilaku sebagai laki-laki seutuhnya, tidak boleh ada unsur perilaku wanita dalam diri seorang laki-laki. Mulai tegaskan secara detail, seperti cara berjalan harus tegap tiak berlenggak-lenggok, cara bicara tidak boleh mendayu-dayu, cara berpakaian harus sebagaimana layaknya identitas seksualnya, dan indentitas lain nya yang menjadi ciri khas laki-laki.

Begitu pula sebaliknya jika anak perempuan. Tegaskan secara jelas identitas seksualnya, mulai dari cara berpakaian, cara berjalan, cara bicara, dan lainnya yang sesuai engan identias khas perempuan.

 

  1. Awasi dan Kendalikan Pergaulan Anak

 

Lingkungan juga berpengaruh terhadap perkembangan seksual anak. Selain membangun lingkungan keluarga yang mendukung dalam pola pendidikan seksual anak, menjaga lingkungan bermain anak juga penting demi menjaga kestabilan seksual anak.

 

Berikan mainan-mainan yang sesuai dengan gender-nya termasuk dalam usaha mengendalikan di lingkungan rumah. Jangan biarkan anak laki-laki anda bermain-main dengan mainan yang identik dengan perempuan, seperti boneka, rias-riasan, masak-masakan, dan lain sebagainya. Begitu juga jika anak perempuan, jangan sampai anda membiarkan dia bermain dengan mainan anak laki-laki.

 

Mengawasi lingkungan bermainnya juga penting loh Sahabat Baju Sekolahan. Usahan anak-anak anda lebih cenderung bermain dengan teman-teman yg 1 gender dengan dia. Banyak terjadi kasus, anak-anak menjadi berubah kecenderungan sekseualnya dikarenakan terlalu sering bergaul dan bermain dengan teman-teman yang berbeda gender dengannya.

 

Jika diperlukan, Sahabat Baju Sekolahan bisa memberikan sangsi dan hukuman yang tegas apabila si anak melakukan hal yang bisa mengancam kecenderungan seksualnya tersebut.

 

  1. Biasakan dan Ajarkan Menjaga Aurat kepada Anak

 

Seperti yang kita ketahui, dalam agama islam telah diatur bagaimana adab dalam berpakaian, khusunya menjaga aurat. Sahabat Baju sekolahan, sebagai orang tua wajib bagi kita mengenalkan segala hal terkait aurat kepada anak-anak kita. Hal yang paling mudah adalah ajarkan anak perempuan kita menggunakan jilbab.

 

Mulai dari batasan-batasan mana saja yang boleh perlihatkan keapada yang bukan mahrom (orang yang haram kita nikahi), ataupun kita perlu menjelaskan siapa saja yang menjadi mahrom ataupun yang bukan mahrom itu. Agar nantinya, anak-anak tetap menjaga nilai-nilai syariat yang diajarkan dalam agama, sehingga dapat menjauhkannya dari perbuatan yang dinistakan dalam agama seperti tindakan LGBT tersebut.

 

  1. Pisahkan Tempat Tidur Anak

Terdapat satu hadist yang menerangkan bahwa sebaiknya anak mulai diperintahkan salat dan tidur terpisah ketika berusia 7 hingga 10 tahun. Bahkan, orang tua berhak bersikap tegas kepada anak jika aturan main ini tidak dipenuhi. Sesekali, anak mungkin merengek untuk minta ditemani tidur oleh orang tua atau kakaknya, terlebih ketika sakit atau sedang manja. Siasati dengan memberi nasihat secara lembut bahwa kita akan menemaminya tidur kali itu saja karena anak harus belajar mandiri dan usianya sudah cukup dewasa untuk tidur terpisah.

Tidak hanya memisahkan tempat tidur dari orang tua, pemisahan tempat tidur ini baiknya juga dilakukan kepada saudara yang berbeda gender. Agar anak menjadi mengerti bahwa meskipun saudara, tetap ada batasan-batasan dalam hal gender yang harus dipatuhi.

 

  1. Lindungi dan Jauhkan Anak dari berbagai Stimulus Perilaku Menyimpang

 

Zaman sekarang ini memang sudah tidak bisa dipungiri lagi. Semakin mudahnya seseorang mengirim dan menerima informasi, menjadikan sahabat Baju Sekolahan semua harus ekstra hati-hati dalam memilih tayangan dan hal-hal yang mungkin bisa mempengaruhi perkembangan seksual pada anak.

Sebisa mungkin Orang tua harus mengkontrol hal-hal yang menjadi sarana informasi bagi anak, termasuk Media televisi, internet, dan media cetak jangan sampai banyak menampilkan hal-hal yang berbau perilaku LGBT, yang berkemungkinan besar bisa mempengaruhi anakuntuk berbuat demikian pula.

Ingat, Anak adalah peniru yang ulung.

Bisa saja dia dengan mudah menirukan apayang dia lihat didepan matanya, termasukdari berbagai media.

 

  1. Perkuat Ilmu Agama pada Anak

 

Agama adalah fondasi penting dalam membentuk karakter anak. Menjadi contoh bagi mereka adalah langkah awal dalam mendidik. Dalam kehidupan sehari-hari, ajarkan ilmu agama dalam setiap sendi dan kegiatan. Sering-sering menceritakan kisah keagamaan, seperti kisah nabi dan para sahabat. Berkaitan dengan kasus ini, cerita yang paling cocok adalah kisah Nabi Luth.

 

Sering-sering juga untuk mengajak anak ke acara-acara yang bernuansa religi, seperti datang ke pengajian. Ini dapat menjadi pengisi kekosongan jiwa anak, dari pada harus diisi dengan perbuatan yang belum tentu bermanfaat.

 

Sahabat Baju Sekolahan, mari menciptakan generasi yang kelak menjadi pemimpin terbaik di bumi Allah ini. Ajarkan anak-anak kita hal-hal penting yang akan menjadi kebiasaannya.

 

Semoga kelak anak-anak kita bisa menjadi lebih baik dan lebih hebat dari generasi sebelumnya.

 

Dampingi perkembangan anak dan jadilah contoh yang baik bagi mereka. Awali Perubahan dari diri kita sendiri sebagai orang tua. Tanamkan nilai-nilai agama dan kebaikan pada diri kita sendiri terlebih dahulu.

 

Mengapa?

 

Because parents is the first role model for their child.

Semoga Bermanfaat,

Boleh Anda Share jika Anda menghendaki kebaikan ini bisa diterapkan oleh banyak orang di sekitar Anda

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

%d blogger menyukai ini: